
Rumah Mr. G dirancang dengan mengusung gaya modern kontemporer yang menekankan garis-garis tegas pada fasad serta permainan bidang yang saling berinteraksi.
Perpaduan warna earth tone dengan aksen kontras memperkuat kesan modern, rapi, sekaligus hangat dalam konteks hunian tropis.


Proyek rumah ini berangkat dari keinginan untuk menghadirkan hunian yang terbuka dan ramah terhadap lingkungan sekitarnya.
Strategi desain yang dipilih adalah mengaburkan batas antara ruang privat dan publik, sekaligus tetap menjaga lapisan privasi yang diperlukan penghuni.
Carport tanpa pintu dan halaman tanpa pagar menjadi gestur awal yang menunjukkan keterhubungan dengan konteks. Namun, keterbukaan tersebut diimbangi dengan sistem transisi ruang yang berlapis.



Pintu masuk tidak diletakkan pada fasad depan, melainkan digeser ke sisi bangunan.
Strategi ini memberi dua keuntungan utama:
- Menyederhanakan komposisi fasad sehingga tampil lebih bersih,
- Menciptakan pengalaman masuk ke dalam rumah yang berbeda.
Alih-alih langsung mencapai ke dalam rumah, akses menuju rumah berlangsung sebagai rangkaian transisi.
Begitu melewati pintu, foyer hadir sebagai ruang ambang—sebuah jeda singkat sebelum memasuki inti rumah.
Di titik ini, ruang berperan sebagai transisi yang menenangkan, menyiapkan suasana sebelum benar-benar memasuki area inti rumah.
Dengan demikian, perjalanan dari publik ke privat tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui tahapan yang memberi penghuni maupun tamu kesempatan untuk menyesuaikan diri.
Pengaturan program juga turut memperhatikan kenyamanan tamu.

Kamar tidur tamu yang berada di sisi ruang tamu, lengkap dengan kamar mandi, memungkinkan tamu untuk merasa mandiri tanpa harus melintasi ruang-ruang privat keluarga.
Dengan demikian, rumah ini tidak hanya membuka diri pada lingkungan, tetapi juga menawarkan hirarki ruang yang jelas antara publik, semi-publik, dan privat.

Selain hierarki ruang untuk penghuni dan tamu, sirkulasi khusus juga disediakan bagi ART. Akses ini memungkinkan ia langsung menuju kamar atau mengakses dapur tanpa melewati area depan rumah.
Kehadiran akses ini bukan hanya soal efisiensi kerja, tetapi juga strategi untuk menjaga kelancaran aktivitas domestik tanpa mengganggu ritme ruang utama.
Bagi penghuni, akses samping menuju dapur pun menjadi elemen penting.
Letaknya yang berdekatan dengan tangga penghubung lantai satu dan dua menjadikan dapur sebagai titik strategis, baik sebagai pusat aktivitas harian maupun sebagai simpul transisi vertikal di dalam rumah.


Lantai dua dikhususkan sebagai area privat keluarga.
Di lantai dua terdapat kamar utama, kamar anak, ruang kerja, serta ruang baca—semua dirancang agar tidak terjangkau langsung oleh tamu.
Pemisahan ini mempertegas lapisan privasi yang sudah dibangun sejak lantai dasar.
Meskipun demikian, relasi antara dua lantai tetap terjaga melalui keberadaan void dan high ceiling pada ruang keluarga serta area tangga.
Elemen vertikal ini memungkinkan terjadinya koneksi visual antara lantai satu dan dua.
Dengan demikian, ruang-ruang di lantai atas terasa terpisah namun tetap berhubungan, menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan eksklusivitas.


Suhu dan kenyamanan termal menjadi salah satu perhatian utama dalam perancangan rumah ini.
Atas permintaan klien, ruang terbuka diperbanyak di dalam tapak, tidak hanya sebagai penyangga kebisingan dari lingkungan sekitar, tetapi juga sebagai cara agar rumah dapat “bernapas.”
Strategi ini diharapkan mampu menghadirkan hunian yang lebih sehat—bagi bangunan maupun penghuninya.
Terdapat tiga ruang terbuka pada tapak, yakni di area depan, samping, dan belakang.
Ruang terbuka depan difungsikan sebagai taman kecil sekaligus carport, berperan sebagai lapisan buffer terhadap jalan lingkungan.
Di sisi samping, ruang terbuka berbentuk lorong menghadirkan akses langsung bagi penghuni maupun ART menuju bagian dalam rumah.
Area ini sengaja dibiarkan tanpa penutup, namun tanaman rambat digunakan sebagai kanopi alami untuk menyaring cahaya dan mengurangi glare.


Sementara itu, ruang terbuka belakang menjadi tempat aktivitas rekreatif.
Sebuah pavilion sederhana hadir sebagai tempat bersantai keluarga, sekaligus ruang berkumpul yang lebih santai.
Elemen ini diperkaya dengan dinding panjat buatan yang dirancang khusus untuk mengakomodasi hobi sang anak, menjadikan area belakang bukan hanya ruang terbuka pasif, tetapi juga wadah interaksi dan aktivitas.

Air menjadi salah satu elemen penting dalam merancang pengalaman ruang di rumah ini.
Kehadirannya tidak hanya dimaksudkan sebagai pendingin visual, tetapi juga sebagai medium yang memperkaya interaksi sehari-hari.
Di bagian depan, sebuah kolam dangkal dengan pijakan-pijakan hadir sebagai transisi pertama sebelum memasuki rumah.
Menapak di atasnya, penghuni maupun tamu diajak melintasi riak air yang bergerak lembut, menjadikan perjalanan menuju pintu masuk sebagai pengalaman yang sekaligus reflektif dan playful.
Di sini, air tidak sekadar menjadi latar, melainkan turut berperan aktif dalam menghadirkan momen singkat yang menyegarkan indera.

Elemen kedua berada di sisi lain rumah, berupa kolam ikan kecil yang diperkaya dengan cascade lembut.
Suara gemericik air yang jatuh menghadirkan atmosfer tenang, melengkapi kualitas sensorik tapak melalui kombinasi visual, auditori, dan gerak.
Bagi penghuni, kolam ini menjadi sudut relaksasi yang intim—sebuah oasis sederhana yang menyeimbangkan ritme kehidupan sehari-hari.





















