
Berdasarkan kebutuhan yang berubah, dimana anak terakhir Mr. DE sudah membutuhkan ruang yang terpisah dari kakak keduanya, Mr. DE memutuskan untuk merenovasi rumahnya dengan menambah 1 kamar lagi.
Namun, dalam proses diskusi, istri Mr. DE meminta adanya taman kecil yang dapat dimanfaatkan untuk berkebun. Sehingga, kebutuhan ruang di rumah yang akan direnovasi kemudian menjadi 4 kamar dan area untuk berkebun.
Terletak di lingkungan perumahan kota, rumah ini berdiri di atas lahan 5.7 × 15 meter. Kebutuhan akan carport di area depan secara otomatis mengurangi luas tapak yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang hunian.
Lalu, muncul pertanyaan, “Bagaimana menghadirkan rumah yang efisien, terang, dan tetap memiliki ruang hijau yang bermakna?”

House Tour
Dimulai dari lantai satu, area entrance pada posisi yang cenderung minim cahaya karena berada cukup menjorok ke dalam, ternaungi balkon lantai dua, serta tertutup kanopi carport.
Untuk mengatasi hal tersebut, ceiling pada area entrance diganti dengan material transparan yang terhubung langsung dengan void outdoor di atasnya, sehingga cahaya alami dapat masuk dan ruang tidak lagi terasa gelap.

Memasuki rumah, penghuni langsung disambut oleh living room-sebuah ruang komunal yang fungsinya lebih fleksibel, dapat difungsikan sebagai ruang keluarga-pusat interaksi antar penghuni rumah, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu.
Pertimbangannya sederhana: pola interaksi di rumah tidak lagi terpisah antara penghuni dan tamu.
Ruang ini dibuat adaptif—hangat dan kasual untuk keluarga, namun tetap representatif ketika menerima tamu.

Secara visual, ruang ini terkoneksi dengan open space di tengah rumah yang tidak terlalu besar.
Pintu kaca sliding yang cukup tinggi yang membuat batasan fisik antara ruang dalam pada living room dengan ruang luar.
Sebelum sampai pada open space dengan hardscape pavement, terdapat ruang transisi berupa teras kecil dengan material deck kayu, memberi kesan hangat untuk menjadi area peralihan.

Open space dengan luas 2m x 2m ini sengaja dibiarkan terbuka tanpa tanaman. Karena area yang cukup kecil, yang lebih penting adalah open space ini dapat menjadi pori-pori untuk rumah bernapas-memungkinkan aliran udara luar masuk ke dalam rumah serta cahaya matahari langsung.
Hardscape pada area ini menggunakan grass block, memungkinkan air terserap ke tanah, namun meminimalisir becek serta dapat dimanfaatkan untuk aktivitas ringan outdoor.

Selain terkoneksi dengan living room, open space juga terkoneksi dengan ruang makan.
Ruang makan menjadi ruang semi-outdoor dengan pintu sliding kaca yang menghapus barrier visual namun tetap memberi proteksi pada cuaca seperti hujan maupun serangga pada malam hari.

Memiliki ruang yang terbatas, area dapur diuntungkan dengan memiliki tiga sisi dinding, sehingga layout U dipilih untuk menyajikan ruang yang banyak bagi dapur.

Memilih bentuk tangga lurus, membuat terdapat area kosong di bawah tangga.
Sebagian area, dimanfaatkan sebagai powder room, sementara sebagian lain, pada luasan yang memungkinkan, dimanfaatkan sebagai area gudang yang disamarkan dengan backdrop TV dan kabinet. Sehingga, lantai satu menjadi area publik dan servis yang cukup efisien, namun tetap sehat.


Naik ke lantai dua, tangga mengarah langsung pada sebuah hallway yang menghubungkan kamar utama dan kamar anak.
Untuk memastikan area sirkulasi tetap terang dan nyaman, bukaan ditambahkan di sisi tangga, memungkinkan cahaya alami mengalir hingga ke area hallway.

Kamar utama ditempatkan pada massa bangunan depan dan dilengkapi balkon yang berfungsi sebagai area bersantai dan buffer dari panas matahari.
Di dalam kamar, sistem penyimpanan tertata dalam bentuk wardrobe built-in yang juga berfungsi sebagai koridor menuju kamar mandi utama.
Pendekatan ini memungkinkan ruang terasa lebih bersih, terorganisasi, dan efisien—baik secara fungsi maupun pengalaman ruang.

Sementara itu, pada massa bangunan belakang, kamar anak 01 ditempatkan sebagai ruang privat yang telah dilengkapi kamar mandi dalam.
Ruang ini mendapat bukaan langsung menuju void outdoor, memungkinkan cahaya alami dan aliran udara masuk secara optimal.
Meskipun komposisi lantai dua tergolong compact, setiap ruang tetap memperoleh pencahayaan, ventilasi, dan pandangan keluar yang memadai—menjawab tantangan umum lantai atas yang kerap rentan terhadap area gelap dan udara pengap.


Memasuki lantai terakhir, kita bertemu lagi dengan hallway yang menjadi penghubung tiga ruang yakni, ruang servis, kamar 02 dan kamar 03.
Ruang servis menempati area paling depan. Penempatan ini mempertimbangkan jumlah cahaya matahari dan sirkulasi udara yang banyak karena area ini akan difungsikan menjadi area laundry, janitor, serta tempat membersihkan diri setelah berkebun.

Pada lantai ini dihadirkan dua karakter taman: taman basah pada area balkon sebagai ruang semi–outdoor, serta taman kering pada teras.
Taman basah memperoleh paparan cahaya matahari langsung dari sisi selatan, memungkinkan vegetasi beradaptasi secara optimal.
Sementara itu, taman kering mendapatkan cahaya dari arah void, menjadikannya elemen lanskap interior yang tetap hidup tanpa paparan matahari penuh. Menjawab kebutuhan dari penghuni yang menginginkan adanya kebun kecil di rumah ini.


Setiap kamar anak telah dilengkapi dengan kamar mandi dalam, memastikan kenyamanan dan privasi penghuni.
Kedua kamar juga menghadap ke inner void outdoor yang memungkinkan setiap kamar mendapat cahaya alami dan aliran udara yang nyaman sepanjang hari sehingga tidak gelap dan pengap.


Kesimpulannya, meski rumah ini memiliki tapak yang padat, setiap ruang dirancang seefisien mungkin agar tetap mendapatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami yang optimal.
Hasilnya, rumah tetap terasa nyaman, terang, dan bernafas dengan baik.

Memiliki fasad organik dengan pertemuan sudut yang dibuat melengkung, rumah ini menampilkan ekspresi yang soft, gentle, dan timeless.
Bentuknya yang mengalir tidak hanya memberi kesan ramah, tetapi juga menghadirkan citra arsitektur kontemporer namun memiliki kesan tenang.

Sudut lengkung sudah diperkenalkan sejak area pagar. Dinding pagar sengaja dibuat polos agar lengkungan tersebut tampil sebagai focal point.
Penambahan elemen tanaman di depan pagar memperkuat kesan organik dan memberikan nuansa yang lebih relaxed pada keseluruhan tampilan rumah.

Pada pertemuan antara lantai balkon di lantai dua dan ceiling entrance di lantai satu, sudut lengkung kembali dihadirkan untuk menghilangkan garis pertemuan yang kaku sekaligus memperkuat karakter fasad.

Dinding pelingkup balkon pun dirancang tanpa sudut tajam, menyelaraskan diri dengan bahasa lengkung yang mendominasi keseluruhan tampilan.
Dengan pendekatan bentuk yang organik dan lembut ini, fasad rumah tampil berbeda namun tetap ramah—menghadirkan identitas visual yang kuat tanpa kehilangan kehangatan.



























